Home Uncategorized Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa

Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa

41
0

Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa
Kita harus sadar dari tidur kita, coba, kita lihat sekeliling kita, anak-anak kita, teman-teman kita, adik-adik kita saudara-saudara kita. Apakah ada diantara mereka yang sudah senang dengan membaca/literasi/pembiasaan yang mengarah pada perbaikan gaya hidup?

Membaca adalah salah satu hal yang jarang sekali dilakukan oleh kebanyakan orang-orang di negara kita. Kita bissa lihat di sekeliling kita, mulai dari anak-anak sampai orang tua, mereka sibuk dengan melihat tontonan/tayangan televisi, hiburan, CD, You Tube, game dan lainnya yang membuat mereka terlena dan lupa akan waktu. Mereka lebuh baik melihat Televisi daripada membaca buku, koran, majalah dan media cetak lainnya.

Kita harus segera sadar bahwa semua tontonan, tayangan tersebut adalah salah satu usaha mereka yang menginginkan bangsa kita tetap terpuruk dan bodoh, sehingga bangsa kita bisa tetap dijajah walaupun tidak secara fisik. Kita harus sadar bahwa sebenarnya bangsa kita dalam jajahan secara mental (non fisik).

Secara umum masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara di dunia yang diteliti.
Vietnam menempati urutan ke-20. Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti.

 Apakah ada diantara mereka yang sudah senang dengan membaca Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa

Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.

Mencermati hal itu, GLB dirancang untuk membiasakan anak gemar membaca dan menulis, “GLB mengambil model penumbuhan budi pekerti lima belas menit pertama sebelum pelajaran dimulai, sebagaimana yang dituangkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, dan ini adalah kegiatan ekstra kurikuler bukan intra kurikuler jadi tidak menambah jam belajar yang sudah ada,” ungkap Gufran.

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG PENUMBUHAN BUDI PEKERTI

 Apakah ada diantara mereka yang sudah senang dengan membaca Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa

Kita bisa belajar dari foto-foto di atas, Orang-orang luar negeri dari negara-negara maju, Mereka tidak menyia-nyiakan waktu luang, waktu santai, waktu di jalan, di kendaraan dengan berdiam diri ataupun mengobrol. Tapi disela-sela kegiatan tersebut mereka sempatkan untuk membaca, sehingga pengetahuan, informasi mereka akan bertambah dan berkembang.

Mereka (orang-orang di negara maju) sangat menghargai yang namanya waktu, Waktu adalah pengetahuan, Waktu adalah kesempatan, waktu adalah uang, Waktu adalah segalanya. Itulah prinsip Mereka orang-orang yang ingin maju. Tidak ada waktu untuk bersantai ria.

Kegiatan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di Sekolah melalui pembiasaan-pembiasaan:
Mengembangkan Potensi Diri Peserta Didik Secara Utuh Setiap siswa mempunyai potensi yang beragam.

Sekolah hendaknya memfasilitasi secara optimal agar siswa bisa menemukenali dan mengembangkan potensinya.
Kegiatan wajib:
Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari).
Seluruh warga sekolah (guru, tenaga kependidikan, siswa) memanfaatkan waktu sebelum memulai hari pembelajaran pada hari-hari tertentu untuk kegiatan olah fisik seperti senam kesegaran jasmani, dilaksanakan secara berkala dan rutin, sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu.

 Apakah ada diantara mereka yang sudah senang dengan membaca Budaya Literasi Kunci Kemajuan Bangsa

A. Konsep Literasi Sekolah
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi. Ferguson menjabarkan kom- ponen literasi informasi sebagai berikut:

1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

3. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak,  media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.

4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyim- pan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
5. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen).Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan tersebut  perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik, alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills). Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar.

B. Pelaksanaan Literasi di Sekolah Dasar
Program Gerakan Literasi Sekolah Dasar dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Adapun ketiga tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahap ke-1: Pembiasaan
Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.

2. Tahap ke-2: Pengembangan
Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan (Anderson & Krathwol, 2001).

3. Tahap ke-3: Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran (cf. Anderson & Krathwol, 2001). Dalam tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).

C. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan Evaluasi  bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kualitas program Gerakan Literasi Sekolah sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan, tujuan monitoring dan evaluasi gerakan literasi adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung keterlaksanaan program gerakan literasi di sekolah.
2. Memperoleh gambaran mutu gerakan literasi di sekolah secara umum.
3. Melihat kendala-kendala yang terjadi
4. Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan untuk menyusun rekomendasi terkait perbaikan pelaksanaan program gerakan literasi sekolah ke depan
5. Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program gerakan literasi di sekolah.

D. Tindak Lanjut
Hasil monitoring dan evaluasi dari implementasi program gerakan literasi sekolah digunakan sebagai acuan untuk menyempurnakan program, mencakup penyempurnaan rancangan, mekanisme pelaksanaan, dukungan fasilitas, sumber daya manusia, dan manajemen sekolah yang terkait dengan implementasi program.

Membaca dalam  hati
membangun kebiasaan membaca, misalnya berkonsentrasi, meningkatkan kemampuan serta kelancaran membaca melalui kegiatan membaca untuk kesenangan.
Kelas I s/d Kelas VI
1) Peserta didik membaca diam dengan memilih buku sesuai minat dan keinginannya.
2) Guru memberikan contoh dengan bersama-sama membaca dalam hati pada saat yang sama.
3) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
4) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan berakhirnya kegiatan membaca.
5) Tidak ada tugas atau catatan akademik yang perlu dilaporkan/diserahkan.

Membaca nyaring
membangkitkan minat baca peserta didik; meningkatkan pengetahuan pada anak-anak; memperkenalkan banyak kosakata baru kepada anak-anak; mendorong anak-anak untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran; kapasitas memori atau daya ingat anak dapat ditingkatkan dengan cara meminta anak untuk mengingat cerita yang telah dibacakan atau sampai sejauh mana cerita telah disampaikan.
Kelas IV  s/d Kelas VI
1) Materi bacaan yang dipilih sesuai dengan atau sedikit di atas tingkat membaca mandiri.
2) Guru membaca materi bacaan dulu.
3) Mengidentifikasi proses dan strategi yang akan digunakan
4) Guru perlu mengantisipasi di bagian mana dalam bacaan “pengetahuan dasar” perlu dibangun.
5) Pada tahap sebelum membaca, guru memilih buku/cerita yang bermanfaat dan menarik untuk dibacakan karena kandungan nilai moral, sastra, keindahan, relevansi dengan kondisi anak, dll.
6) Pada tahap membaca, guru sebaiknya tidak membaca terlau cepat. Apabila memungkinkan gunakan suara yang berbeda untuk pelaku yang berbeda.  Jeda diperlukan untuk membuat peserta didik yang sedang menyimak lebih terlibat.
7) Untuk kegiatan pembiasaan budaya membamembaca, peserta didik dapat diarahkan untuk membaca cerita menarik lain di hadapan teman sekelas ataupun diadakan kompetisi/lomba membaca cerita bagi peserta didik.

Berbincang/menganalisis elemen-elemen cerita
Meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis elemen cerita
Kelas IV  s/d Kelas VI
1) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan berakhirnya kegiatan membaca.
3) Memberi tagihan analisis elemen cerita
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
6) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.

Membuat jurnal tanggapan terhadap cerita.
Meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami isi bacaan
Kelas IV  s/d Kelas VI
1) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan berakhirnya kegiatan membaca.
3) Memberi tagihan berupa jurnal tanggapan terhadap siswa
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.

Kegiatan seni peran bebasis tanggapan terhadap cerita
Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan isi cerita/bacaan
Kelas IV  s/d Kelas VI 1)
Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan berakhirnya kegiatan membaca.
3) Memberi tagihan berupa jurnal tanggapan terhadap siswa
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.

Pembelajaran berbasis literasi
Menumbuhkan semangat rasa ingin tahu dan cinta pengetahuan peserta didik
Kelas IV  s/d Kelas VI
1) Guru mencari referensi pembelajaran yang relevan dan mengurangi ketergantungan kepada buku teks pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS)
2) Siswa membaca teks yang telah disediakan guru.
3) Memberi tagihan sesuai dengan  LK yang disiapkan guru
4) Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya.
5) Membuat simpulan dan pemajangan


Sumber https://www.anekapendidikan.com/